Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Friday, December 28, 2007

Yang Merendahkan Hati,akan Ditinggikan

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================


oleh: Pdt Bigman Sirait

http://www.reformata.com

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Matius 23:12) Dari segi tata bahasa, kata “rendah” adalah antonim (lawan) dari “tinggi”. Dalam pengertian bahasa dan ke-hidupan sehari-hari, kedua kata di atas jelas berbeda. Dan perbedaan sema-cam ini cukup banyak mewarnai Al-kitab. Di sini kita dapat melihat adanya perbenturan yang sangat dahsyat an-tara nilai yang ditetapkan Yesus de-ngan nilai yang diterapkan dunia. Ini sebenarnya tidak menyenangkan bagi banyak kalangan, termasuk para ahli Taurat yang merasa memiliki nilai tersendiri. Ayat di atas muncul ketika Yesus mengkritik orang-orang Farisi dan ahli Taurat.

Mereka memang mengajarkan Taurat tentang kebenaran, menga-jarkan supaya setiap orang berperilaku benar. Namun, perilaku mereka sendiri tidak benar. Mereka tidak melakukan hal-hal yang semestinya mereka lakukan sebagai konsekuensi penga-jaran mereka. Artinya mereka telah berbuat kesalahan. Tragis, khotbah yang mereka sampaikan tidak lebih hanya berupa konsumsi dari mulut ke kuping. Tingkah laku mereka sehari-hari berlawanan dengan isi khotbah mereka. Ini tentu saja suatu penipuan, penyelewengan, yang tidak disukai oleh Tuhan. Mereka ingin menempatkan diri sebagai Musa pada jaman mereka. Mereka menempatkan diri menjadi tinggi, hebat, luar biasa melebihi siapa pun. Yang lebih parah, mereka juga sudah menempatkan diri sebagai wakil Tuhan.

Maka terjadilah penekanan para pemimpin agama terhadap umat. Tidak heran, jika banyak umat menjadi bodoh, karena tidak mau mencari kebenaran Allah, tetapi hanya mau mengarahkan telinga ke khotbah-khotbah yang seringkali tidak benar. Kondisi ini benar-benar mengerikan, apalagi umat sendiri pun kelihatannya kurang bergairah dalam membaca Alkitab dengan kritis dan teliti. Umat menjadi korban yang mudah di-ninabobo-kan oleh berbagai kepal-suan. Umat tidak lagi selektif atau sen-sitif untuk memperhatikan ayat demi ayat, kata demi kata.
Dengan menempatkan diri sebagai rabbi, para ahli Taurat juga menem-patkan diri sebagai pusat segalanya, yang tahu segalanya. Artinya mereka meninggikan diri dengan merebut porsi Allah, dengan segala kepongahan. Me-reka telah bermusuhan dengan Allah, sebab Allah sangat benci terhadap orang yang sombong, pongah, yang hanya gemar meninggikan diri. Dalam doa pun, mereka hanya menonjolkan diri di hadapan Tuhan. Sebaliknya orang lain dijelek-jelekkan, seperti bunyi salah satu doa ini: “Tuhan, beruntunglah aku. Aku seorang ahli Taurat, Farisi, yang seminggu berpuasa dua kali, tidak seperti si pemungut cukai yang berdosa itu…” Jebakan keagamaan memang mengerikan.

Karena itu hati-hatilah agar jangan sampai membuat suatu pengakuan sepihak bahwa kita adalah yang terbaik. Jangan sampai seperti ahli Taurat yang karena merasa dirinya paling suci, paling hebat, paling jago, malah berusaha merebut kekuasaan Allah. Dan karena itulah Tuhan mem-peringatkan, “Barangsiapa meninggi-kan dirinya, dia akan direndahkan.” Sebaliknya, berbahagialah mereka yang merendahkan dirinya. Merendah-kan diri bukan berarti menempatkan diri lebih rendah dengan membungkukkan badan. Merendahkan diri di sini me-nyangkut sikap hati yang takluk pada kebenaran Allah, tunduk dan menya-dari diri sebagai orang berdosa.

Status seperti ini sangat penting kita miliki. Ketika orang dekat dengan Tuhan, ke-sadarannya sangat tinggi. Hal seperti ini juga pernah dialami oleh Petrus. Saking merasa sangat rendah di hadapan Tuhan, dia malah meminta agar Tuhan menjauhinya, “Tuhan, menjauhlah dariku, orang berdosa ini...” Sementara orang yang pongah dan besar kepala justru mengangkat diri dan senantiasa berbuat dosa. Saat berbuat dosa pun dia sudah tidak sadar. Jika dinasihati, malah marah. Akhirnya dia semakin dalam terperosok ke dalam kesombongan, merasa diri sebagai orang yang paling hebat, pa-ling baik. Lucifer, malaikat yang mem-buat dirinya sama dengan Allah, akhir-nya dibuang dari surga. Nasib sama menimpa Adam dan Hawa. Karena ingin sama dengan Allah, keduanya diusir dari Taman Eden.

Oleh karena itulah, setiap orang Kristen seharusnya mencerminkan suatu kerendahan hati. Wujud keren-dahan hati seorang kaya bukan de-ngan cara mengenakan pakaian seder-hana. Kerendahan dalam konteks ini menyangkut sikap hati, bukan bagai-mana penampilan diri. Suatu kesadaran bahwa diri kita bukanlah apa-apa, me-rupakan salah satu wujud kerendahan hati. Jika seseorang menyadari kalau dirinya bukan apa-apa, maka apa pun yang ada padanya bukan dianggap sebagai miliknya. Maka pengendalian diri dari dalam, menjadi sesuatu yang paling penting.

Dalam dunia kerja, kita sebagai pekerja pun seharusnya menyikapi ini semua dengan kesungguhan yang utuh. Nikmati apa yang ada, yang Tu-han berikan. Kita tidak perlu berpura-pura merendahkan diri dengan menge-nakan pakaian compang-camping ke kantor. Kalau kita memang bisa, ke-napa tidak memakai pakaian yang ba-gus? Tidak perlu memakai sandal jepit jika kita sanggup beli sepatu.

Tetapi jangan pula membeli pakaian bagus da-ri tumpahan darah atau keringat orang lain. Sekali lagi, bukan penampilan luar yang berbicara tentang kerendahan hati, tetapi sikap hati. Sehingga kita merasa lebih bukan karena punya ba-nyak uang, bukan pula karena kita punya jabatan. Sebaliknya, kita me-rasa kurang, bukan lantaran tidak pu-nya uang atau tidak punya jabatan. Tetapi yang penting, lebih atau ku-rangnya kita dalam kehidupan, kita perlu senantiasa menanyakan apakah kita dekat dengan Tuhan? Jika kita dekat dengan Tuhan, DIA-lah nilai lebih kita. Sebab kalau kita ber-sama Tuhan maka DIA akan mengang-kat kita. Jikalau kita bersama dengan Tuhan, DIA akan meninggikan kita. Oleh kebenaran, kita direndahkan.

Oleh kebenaran pula kita akan diting-gikan. Oleh karena kebenaran kita di-angkat oleh Tuhan. Tetapi barangsiapa meninggikan diri melewati kebenaran, dia akan direndahkan. Jika mendapat penghinaan, atau direndahkan, puji Tuhan. Itu kesem-patan untuk merendahkan hati, bukan untuk merendahkan diri. Tetapi jika kita kecewa atau marah terhadap tekanan, berarti kita telah membuang harta benda yang luar biasa nilainya. Kesem-patan seperti itu ibarat mutiara yang terindah, pemberian Tuhan. Jadi, jangan dibuang. *

(Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)
TABLOD REFORMATA YOHANES BLOG

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

Entri Populer