Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Tuesday, September 29, 2009

GEREJA DAN PEMBERITAAN INJIL

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================

Pemberitaan Injil adalah tugas yang melekat pada gereja. Di mana gereja berada, maka di situ Injil harus diberitakan. Gereja yang tidak memberitakan Injil sama dengan gereja yang mati suri: memiliki raga namun tanpa jiwa. Itulah sebabnya pemberitaan Injil yang didasarkan pada Matius 28:19-20 disebut sebagai “amanat agung”. Keagungan amanat itu terletak pada pemberi perintah, yaitu Yesus Kristus, kepala gereja yang agung. Sementara amanatnya adalah memberitakan Injil yang berpusat pada Yesus Kristus yang datang menyatakan diri di Bumi, kepada umat manusia (I Korintus 15:1-8). Dan amanat yang agung itu ditujukan kepada orang percaya, yang sejatinya tidak agung, agar menjadi agung, dengan memberitakan Injil.

Jadi, pemberitaan Injil adalah sebuah kesukacitaan, di mana pemberita dan penerimanya sama-sama bersukacita. Sehingga tidaklah berlebihan, bahkan sangat tepat, ketika Rasul Paulus berkata, “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik” (Roma 10:15). Hanya saja, ada hal yang signifikan untuk menjadi perhatian umat Tuhan, yaitu wujud pas pemberitaan Injil itu sendiri. Di titik ini, gereja seringkali terjebak pada pola yang telah mentradisi, bahwa pemberitaan Injil adalah kebaktian kebangunan rohani (KKR) atau persekutuan Injil (PI) pribadi, atau kelompok sel. Sederhananya, Injil diberitakan dengan cara bertutur, jarang sekali dengan perbuatan konkrit, menolong sesama, sebagai buah Injil.

Tindakan menolong sesama dalam wujud berbagai proyek kemanusiaan bahkan seringkali dicurigai dan dilabelisasi sebagai social gospel. Sebuah label sisnis, yang melukiskan Injil yang kehilangan kuasa pemberitaannya. Di sisi lain, pemberitaan Injil pun dimonopoli oleh para rohaniwan yang tidak jarang memproklamirkan diri sebagai agen utama kerajaan surga. Kelompok ini, sangat menikmati kebergantungan umat kepada diri mereka sebagai pemimpin agama. Jadi, bagaimana sejatinya pemberitaan Injil itu? Menurut hemat saya, gereja harus berani memerhatikan semangat Taurat (bukan sekadar kewajiban agama, tetapi kasih (Matius 22:37-40). Dan semangat Injil (bukan sekadar pemberitaan tetapi perbuatan (Yakobus 2:20-22).

Nah, keseimbangan sangat dibutuhkan di sini. Gereja tidak hanya harus memberitakan Injil dengan mengumandangkannya, tetapi juga harus fasih untuk mengaktualisasikannya. Dan pemberitaan Injil itu pun harus bisa diterjemahkan ke dalam tindakan, bukan hanya monopoli kata-kata berbunga. Paulus berkata, “Kamu adalah surat surat pujian yang dapat dibaca oleh semua orang (II Korintus 2-3). Jadi, gereja tidak boleh terjebak pada retorika KKR, dan merdunya PI pribadi, atau eksklusifnya kelompok sel, tetapi juga mendemonstrasikan tindakan nyata, agar gereja tidak ditolak sesudah memberitakan Injil (I Korintus 9: 24-27). Gereja akan ditolak jika tidak mampu mengendalikan diri, tidak bisa mengekspresikan kasih, yang merupakan warna dominan berita Injil.

Untuk itu perlu perumusan konkrit, agar gereja hadir memberitakan Injil di pentas dunia, bukan hanya di ruang gereja. Gereja memberitakan Injil dengan tindakan nyata, bukan hanya retorika, seimbang, pemberitaan dan perbuatan. Dan, pemberitaan Injil pun tidak lagi dimonopoli oleh para petinggi gereja, tetapi melibatkan semua umat, sebagai orang percaya, pewaris kerajaan surga. Jadi, seluruh unsur tubuh Kristus terlibat aktif. Areal pemberitaan Injil diperluas, melintasi batas gereja, merambah ke seluruh ruang di mana terjadi interaksi antaranak manusia., seperti, ruang kerja, ruang studi, ruang gaul, ruang sosial, dan ruang lainnya.

Di areal ini gereja harus unggul. Unggul, bukan dalam bilangan kuantitas, melainkan kualitas, seperti Yusuf di Mesir atau Daniel di Babel. Pemberitaan Injil pun tak lagi sekadar membacakan dan mengkhotbahkan ayat, tetapi menyatu dalam perilaku yang mudah dicerna. Injil yang menyenangkan, karena peduli dan membagi kasih kepada sesama tanpa batas agama. Tetapi juga Injil yang tegas, karena jelas posisinya dan tak tersentuh kompromi dengan dosa. Dan sudah barang tentu, Injil yang juga selalu siap menanggung seluruh konsekuensi karena warnanya yang tegas dan jelas.*
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

Entri Populer