Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Thursday, October 1, 2009

HARGA JUAL YESUS

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================

AH, judul ini mungkin terasa sangat mengganggu. Apakah Yesus itu barang, sehingga ada harga jualnya? Atau, kalaupun ada, apakah itu manusiawi, karena manusia sangat berharga, dan tak mungkin ada harga yang bisa dicantumkan pada dirinya. Apalagi berbicara tentang Yesus, Allah yang menjadi manusia (Filipi 2: 5-6), wow, mana bisa! Seharusnya memang tidak bisa, namun kenyataannya memang pahit, Yesus terjual. Bahkan terjual dengan harga yang sangat murah. Kenyataan pahit ini tak bermula dari penjahat kelas berat, atau penjudi ulung, atau, artis kebelet duit. Pahit, karena justru bermula dari orang dalam yang termasuk murid, yang memiliki posisi strategis sebagai bendahara. Sang murid bernama Yudas Iskariot, satu dari antara dua belas rasul yang kemudian sangat terkenal sebagai pengkhianat (Markus 3:19).

Nama Yudas sama terkenalnya dengan Petrus dan Yohanes, hanya saja dalam konteks dan kualitas yang sangat berbeda. Yudas Iskariot (Ibrani; Isyqeriyot yang artinya orang Keriot), berasal dari Keriot. Kurang jelas, apakah Keriot tempat asal Yudas adalah Keriot yang di Moab, atau yang di selatan Hebron (dalam Alkitab banyak kota, orang, yang bernama sama). Yudas Iskariot bukan penulis kitab Yudas, hanya namanya saja yang sama.

Nah, kembali kepada Yudas, murid, rasul, bendahara, yang juga pengkhianat. Yudas juga piawai bersilat lidah, satu sisi sepertinya dia peduli dan membela orang miskin, padahal di sisi lain keuntungan dirilah yang dipikirkannya (Yohanes 12:1-8). Ya, Yudas memang “berbakat” sebagai pengkhianat. Entah sudah berapa banyak pelajaran tentang kebenaran yang dia dapat dari Yesus, tapi tak pernah bertumbuh apalagi berbuah.Dalam perumpamaan tentang penabur, Yudas bagaikan benih yang jatuh di tengah semak duri (Matius 13: 22). Episode demi episode mukjizat hebat, disaksikannya, tapi benih kebenaran tak pernah tumbuh dan berbuah dalam hatinya. Hati nurani dibunuhnya, uang menjadi tuannya, maka Yudas telah memilih jalan hidupnya. Yesus dijual seharga 30 keping perak, harga seorang budak (Keluaran 21: 32). Sangat ironis, Yesus, Allah yang menjadi manusia, raja yang menjadi hamba, penebus dosa manusia, sang juru selamat terjual dengan harga yang amat sangat murah.

Namun , di sisi lain, kerelaan Yesus menjadi hamba justru tergenapi dalam pengkhianatan ini. Uang telah membuat Yudas gelap mata. Soal mamon ini tak hanya mewarnai kehidupan duniawi saja, namun juga merata keberbagai sudut kehidupan. Dunia rohani bahkan sering kali lebih duniawi dari dunia itu sendiri. Manusia beragama model Yudas tak pernah habis dari panggung kehidupan. Selalu saja ada generasi pengganti. Sementara pelayan sejati sering kali seperti kehilangan garis. Kegairahan terhadap daya tarik mamon semakin hari semakin menggila. Hal ini tepat seperti lukisan Paulus dalam II Timotius 3: 2, di akhir jaman manusia akan menjadi hamba uang. Manusia kehilangan kendali menjadi tuan atas uang.

Kisah Yudas, mengingatkan kita dengan terang-benderang, bahwa jabatan kerohanian tak serta-merta membuat seseorang imun terhadap godaan uang. Yudas adalah seorang rasul, lebih dari seorang pendeta secara jabatan. Kedekataannya dengan Yesus dalam aktivitas sehari-hari tak bisa dipungkiri, namun tak menjamin kualitas pelayanan. Yudas merasa perlu dan berhak mendapatkan tiga puluh keping perak, sekalipun untuk itu Yesus harus dijual. Sementara Yesus, “rela terjual murah”, asal keselamatan terwujud menjadi kenyatan dalam kehidupan umat. Yudas “beringas” demi uang: “beringas” menjual Yesus, “beringas” dalam baju suci kerasulan. Dan yang tak kalah mengerikan, dia juga “beringas” dalam kemunafikan kepedulian pada kaum papa. Yudas telah mengerahkan seluruh kemampuannya memainkan seluruh jurus pengkhianatan berbaju kerohanian.read more...
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

Entri Populer